Lebaran merupakan suatu momen yang sangat lengket pada masyarakat Indonesia. Di mana momen tersebut merupakan momen perayaan umat Muslim setelah bulan suci Ramadhan. Ada berbagai tradisi unik yang dilaksanakan di Hari Raya selain bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Ya, kita pasti tahu budaya lebaran di Indonesia sangat ditunggu setiap tahunnya oleh masyarakat Indonesia. Saking uniknya, masyarakat Indonesia selalu ingat dengan tradisi lebaran di Indonesia setiap tahunnya.
Tradisi Lebaran di Indonesia
Seperti halnya pulang kampung, makanan khas lebaran, THR (Tunjangan Hari Raya), Takbiran, hingga yang hampir selalu diingat yaitu Baju Lebaran.
Bicara soal tradisi lebaran di Indonesia, menurut Saya ok ok saja. Asal tidak mengundang hal-hal buruk. Karena lebaran menurut saya adalah momen penting dan suci bagi umat Muslim.
Pulang Kampung
Pulang kampung menurut saya ok ok saja. Karena hal ini mengingatkan kita pada umat Muslim bahwa kita harus tetap menjaga silaturahmi pada sesama seperti keluarga, kerabat, teman, dan orang sekitar kita. Sehingga tradisi seperti ini menurut Saya bagus dan positif.
Makanan Khas Lebaran (Ketupat)
Makanan khas lebaran menurut saya, hemmm.. nggak tahu ya. Menurut saya makanan khas lebaran di Jawa (kampung saya) adalah ketupat. Nah, menurut yang saya baca-baca, kalau tradisi ketupat di Hari Lebaran sejarahnya sejak zaman Sunan Kalijaga. Di mana Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi Jawa di Hari Lebaran 2 kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat yang dilakukan seminggu setelah Lebaran. Bahkan Sunan Kalijaga sendiri menjelaskan makna dari tradisi ini, bahwa Ketupat merupakan singkatan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat yang artinya ‘Mengakui kesalahan dalam empat tindakan’. Empat tindakan itu di antaranya, Lebaran yang artinya terbuka lebar pintu ampunan, Luberan yang artinya rezeki yang melimpah sehingga bisa melakukan zakat fitrah, Leburan yang artinya meleburkan segala dosa dan kesalahan dengan saling memaafkan, dan Laburan yang artinya pembersih hati.
Jadi, setelah mengetahui penjelasan makanan khas lebaran (ketupat) di hari Lebaran, menurut saya ok ok saja. Karena itu memang tradisi Jawa sejak dulu yang sudah diterapkan.
THR (Tunjangan Hari Raya)
THR itu apakah penting? Ok, saya sendiri belum tahu bagaimana, kapan, dan darimana asal THR ini. Soalnya, yang saya tahu tiba-tiba ada THR begitu saja. Entah ini memang kebijakan setiap perusahaan untuk mensejahterahkan karyawannya, atau ini adalah anjuran pemerintah ketenagakerjaan untuk memberikan THR pada pegawainya.
Saya sih tidak mempermasalahkan tradisi THR di hari Lebaran. Karena dengan adanya THR, maka para karyawan bisa lebih giat dalam bekerja. Dan ini sangat positif bagi mereka. Namun, terkadang masih banyak yang salah persepsi sehingga mereka hanya giat di hari-hari menjelang lebaran agar mendapatkan THR yang banyak. Sehingga mereka rela lembur di bulan puasa sampai lupa dengan ibadahnya. Nah, ini yang salah! Itu sih menurut saya. Saya nggak mau komentar banyak soal THR, karena saya juga butuh THR kok, hehehe...
Takbiran
Ok, untuk tradisi takbiran di hari lebaran sendiri adalah sangat bagus dilakukan. Dengan mengkumandangkan takbir berkali-kali yang menyerukan nama Allah. Tapi ingat, bahwa takbir ini adalah bentuk syukur kita pada Allah karena kita masih diberi umur panjang di hari Raya Lebaran ini.
Tapi yang saya lihat akhir-akhir ini banyak yang menyisahkan kertas-kertas putih bekas petasan di jalanan saat hari lebaran. Sehingga membuat sepanjang jalanan penuh dengan sampah (bekas petasan di malam hari). Apa ini yang disebut dengan tradisi Takbir Keliling?
![]() |
| source. faktualnews.co |
Tak hanya itu, tradisi Takbir Keliling pun banyak juga yang memberikan dampak seperti rusuhnya jalanan, ugal-ugalan anak muda, dan lain sebagainya yang mengganggu lalu lintas.
Menurut saya, sebenarnya tradisi Takbir Keliling bukan diadakan bukan bertujuan seperti itu. Konon mungkin adanya tradisi seperti ini untuk mempersatukan umat Muslim dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. Dengan berkeliling ke jalanan dan menyuarakan Takbir Allah di jalanan. Sehingga Takbir Allah pun selalu berkumandang di telinga kita. Inilah tujuan sebenarnya bukan? Lalu bagaimana dengan petasan dan ugal-ugalan? Entahlah, saya tak berani berkomentar banyak.
Mungkin jika tradisi Takbiran itu dilakukan di Musholla atau masjid-masjid akan lebih indah. Tapi saya sendiri masih belum tahu, dari mana asal tradisi Takbir Keliling. Mungkin ada yang mau memberikan komentar?
Hal ini pun juga terkait dengan larangan Bu Risma (Walikota Surabaya) terkait takbir keliling. Selengkapnya bisa baca beritanya di sini. Tapi semua tergantung dari kita menyikapinya. Kita ambil sisi positifnya saja, bahwa takbir keliling adalah seruan syukur kita pada Hari Raya Idul Fitri.
Baju Lebaran
Hemm, baju lebaran ya. Apakah di Hari Raya Idul Fitri harus serba baru? Saya sih tidak menyalakan. Karena banyak yang beranggapan bahwa dengan menggunakan serba baru ini untuk menghargai Hari Lebaran. sehingga semua tampak baru dan suci seperti makna Idul Fitri itu sendiri. Tapi, bagaimana jika memaksakan?
Baju baru, sandal baru, cat rumah baru, hingga semua serba baru. Jika kita tak sanggup beli, lebih baik jangan dipaksakan. Karena cukup dengan Takbir dan syukur pada Allah sudah cukup dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Itu sih menurut saya. Saya sendiri juga tak tahu darimana datangnya tradisi baju lebaran, cat baru, sandar baru di Hari Lebaran.
Atau sebenarnya, kalau kita punya rezeki lebih, kita bisa melakukan zakat fitrah atau zakat mal. Atau kita juga bisa mengadakan makan-makan bersama orang-orang yang membutuhkan. Hal ini lebih cocok dilakukan dibandingkan dengan membeli dan memperbaharui semuanya. Karena sebenarnya yang perlu diperbaharui (disucikan) itu hati dan jiwa kita. Bukan raga kita. Bukan begitu?
Itulah berbagai opini cakiel (saya) tentang tradisi lebaran di Indonesia. Saya sendiri adalah orang awam agama. Jadi, jika ada hal-hal atau tanggapan saya yang kurang berkenan, bisa berkomentar di kolom komentar. Karena menurut saya sendiri, bahwa Hari Raya Idul Fitri adalah Hari suci alias mensucikan diri, bukan malah menghambur-hambur harta kita ke duniawi. Ok tak masalah terbilang munafik. Karena saya sendiri masih berada di lingkungan ini.
Selain itu, Saya juga beropini bahwa kita sedang meninggalkan bulan Ramadhan yang merupakan bulan suci bagi kita saat Hari Raya Idul Fitri. Entah apakah kita bakal bertemu lagi dengan bulan ini atau tidak. Seharusnya kita patut bersedih dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Itu sih opini saya.
Wassalam






No comments:
Post a Comment